Posted by: zawiya | March 1, 2008

PINDAH ALAMAT

Assalamu’alaikum wr.wb.,

DENGAN INI DIBERITAHUKAN BAHWA

WEBSITE ZAWIYA NAQSYBANDI HAQQANI BALIKPAPAN

TELAH PINDAH ALAMAT KE:

HTTP://WWW.ZAWIYA-BALIKPAPAN.ORG

Silakan klik URL tersebut untuk update terbaru.

Jazakumullah khoir.

Salam,

Admin

Posted by: zawiya | January 21, 2008

Kebakaran dan Abu Darda’

Satu ketika orang bilang kepada Abu Darda ra, “Rumahmu habis terbakar!” Beliau jawab, “Tidak mungkin! Setiap pagi dan petang aku selalu bacakan apa yang telah diajarkan Rasulullah saw untuk menghindari hal seperti itu terjadi”.  Ketika dibuktikan ternyata semua rumah sudah binasa terkecuali rumah Abu Darda ra sendirian saja yang masih tinggal selamat.

Doanya:

Allahumma anta rabbi, laa ilaaha illa anta alayka tawakkaltu wa anta rabbul arsyil azhim, masya allahu kan wama lam yusyi lam yakun, laa haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil azhim. A’lamu annallaha ‘ala kulli syai-in qadir wa-annallaha qad ahatha bikulli syai-in ‘ilma. Allahumma inni a’uidzu bika min syarri nafsi, wamin syarri kulli daabbatin anta akhidun binashiyatiha, inna rabbi ‘ala shiratim mustaqim..

**

Kepada sahabat tercinta yang ada di Zawiya Samarinda, Mas Eka, semoga Allah SWT. menggantikan apa yang telah diambil-Nya dengan yang lebih baik lagi dan lebih berkah.  Insya Allah kebakaran minggu lalu menjadikan kifarat dari petaka yang lebih besar di mana Allah berkenan mengusirnya.

Teruntuk Mu’allim kami, semoga Allah SWT senantiasa mengucurkan ilmu dan hikmah-Nya melalui beliau.  Amin. 

Terjemahan Kutipan Ceramah
Syeikh Muhammad Hisyam Kabbani ar-Rabbani
30 Agustus 2007
di Mesjid Bank Indonesia

Bismillahir-Rohmaanir-Rohiim
Allahumma sholli ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wassalam

Taatilah Allah, Taati Rasullullah dan orang-orang yang memimpinmu.
Setiap kali saya datang ke sini, saya dapat merasakan kehadiran para Awliya, setiap kali dikumandangkan shalawat, saya merasa benar-benar kehadiran Rasulullah SAW disini. Disini, saya merasakan getaran yang sangat kuat, ada Syekh Husayn (bin ‘Ali bin Abi Thalib ra) disini. Nama itu, Hasan dan Husayn adalah nama cucu Rasululah yang telah ditetapkan sebagai pemuda-pemuda penghuni surga. Lihatlah arti sebuah nama, dari nama tersebut membawa getaran-getaran surgawi yang kuat. Allah menciptakan semua makhluknya pada tempat-tempat yang telah Ia tentukan. Tidak akan ada yang bisa mengubah ketentuan Allah. Mustahil. Allah telah menentukan dimana tiap-tiap makhluk diposisikan.

Kisah Habil dan Qabil
Saat Allah memerintahkan Habil dan Qabil untuk berqurban. Habil memberikan qurban yang terbaik, mempersembahkan yang terbaik dari dirinya untuk Allah SWT. Sedangkan Qabil, ia berpikir, Allah sudah kaya tidak perlu qurban yang baik, dan ia was-was dan terlalu cinta pada harta miliknya sehingga mempersembahkan qurban yang terburuk untuk Allah SWT. Maka Allah tidak menerima qurban Qabil, Allah menerima qurban Habil. Keduanya sama-sama mematuhi perintah Allah, tapi yang satu melaksanakan dengan usaha yang terbaik, sedangkan yang lain dengan usaha yang terburuk. Berhati-hatilah kamu, ambil pelajaran dari kisah ini. Berikan yang terbaik dalam beribadah kepada Allah, percuma kamu mengucapkan “Allahu Akbar” lalu sholat tapi hatimu masih kotor, masih ada rasa benci pada saudaramu. Hati-hatilah, Allah tidak akan menerima ibadahmu!

Saat iblis menolak untuk tunduk pada Adam as., ia tidak patuh pada Allah, padahal ia sebelumnya rajin beribadah. Qurban, sedekah, apa2 yang diperintahkan Allah, itu sebenarnya “kendaraan” kamu untuk dapat mencapai Allah. Persiapkan “kendaraan-kendaraan” kamu.

Kisah Orang Buta
Ada seorang sahabat Rasulullah saw. yang buta dan meminta beliau mendoakannya agar sembuh dari kebutaannya. Rasulullah berkata: “Bisakan kamu bersabar.” Rasulullah tidak langsung mendoakan orang tersebut sebagaimana yang pernah beliau lakukan kepada Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib ra. saat menderita sakit mata, dengan barokah air liur dan doa Rasulullah, saat diusapkan ke mata Sayyidina ‘Ali, bukan hanya sembuh tapi mata beliau dapat melihat musuh yang jaraknya sangat jauh, bahkan dapat melihat hingga ke Arsy–Nya Allah SWT. Tapi sahabat yang buta ini tidak langsung didoakan seperti itu, Rasulullah saw. memerintahkan ia berwudhu lalu sholat 2 raka’at kemudian bacalah doa :

“AS ‘ALUKA ATAWAJJAHU ILAYKA BI NABIYYIKA MUHAMMAD-YA MUHAMMAD INNI ATAWAJJAHU BIKA ILLA RABBI FI HAJAATI. INNI ASTAFI’U BIHA ‘ALAA RABBI FI RADDI BASARI ALLAHUMMA SAFFI’HU FIYYA…..”
“Wahai Allah aku memohon kepada Mu dan berpaling kepada Mu bersama dengan nabi Mu Muhammad. Wahai Muhammad, aku bersamamu menuju Tuhanku berdasarkan hajatku. Aku mohon kepada Tuhanku dengan perantaramu. Ya Allah izinkanlah dia menjadi perantara Mu.”

Setelah membaca doa itu, matanya sembuh bisa melihat. Rasullulah secara langsung menjadikan dirinya “kendaraan” bagi umat untuk menuju Allah SWT.

Dahulu umat selalu datang kepada Rasulullah, membawa masalah-masalah mereka, memohon pertolongan, dan Rasulullah menolong mereka, memberikan jalan keluar untuk semua masalah mereka.

Mengapa sekarang ini umat muslim selalu banyak masalah, menjadi yang terbelakang? karena mereka lupa untuk datang pada Rasulullah saw. memohon pertolongan beliau. Mereka telah lupa untuk selalu mengagungkan nama Rasulullah saw., bershalawat kepada beliau. Maka mereka tidak bisa mendapatkan jalan keluar bagi masalah2 mereka. Semua rukun Islam juga merupakan “kendaraan” untuk kamu untuk dapat mencapai Allah. Lakukanlah, saat memang harus berzakat, jangan ragu-ragu, jangan takut, harta yang kamu zakatkan tersusun rapi di sisi Allah, tidak akan hilang.

Allah memberikan Rasulullah saw. pada kita sebagai manusia terbaik, memberikan Sayyida Fatimah ra., memberikan Sayyidda Khodijah al Kubro ra., mereka adalah ahli bait orang-orang yang terbaik, nasehat-nasehat mereka adalah yang paling benar dan terbaik. Sudah pasti yang terbaik! Tidak mungkin tidak! Maka kita harus mengikuti nasehat-nasehat beliau-beliau semua, orang-orang yang terbaik, kalau kamu mau selamat.

Ada nasehat Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib ra. mengenai 4 hal yang harus diperhatikan oleh seseorang untuk bisa selamat.

Diam. Diam adalah lebih baik. Manusia punya kecenderungan ingin selalu bicara, selalu mengungkapkan pendapat, kalau tidak ada orang yang diajak bicara, dia cari kaca, atau dia bicara dengan istrinya, anaknya kadang bertengkar dengan mereka. Manusia tidak bisa diam. Maka jagalah lisanmu! Diam adalah lebih baik.
Jika kamu terpaksa harus bicara, maka bicarakanlah hal-hal yang bermanfaat.
Jaga pandanganmu. Lihatlah ke kakimu sendiri saat berjalan. Agar kamu tidak melihat jauh ke orang lain yang akan membuat kamu melihat buruknya atau aibnya orang lain, lalu kamu membicarakannya. Lebih baik kamu melihat ke kakimu sendiri, lihat aib-aibmu sendiri, jangan lihat (aib2) orang lain.
Bertafakur, lihatlah kebesaran Allah, itu akan membuatmu ingat kepada-Nya.

Ramadhan akan segera datang, apakah kamu sudah mempersiapkan diri kamu? Persiapkanlah! Ikuti nasehat Sayyidina ‘Ali. Diam lah, jaga lisanmu. Dengan berpuasa, bersihkan lidahmu dari semua hal-hal yang tidak bermanfaat, dari semua kata-kata yang tidak islami, basahi lidahmu dengan berdzikr, mengingat Allah.

Seorang sahabat datang kepada Rasulullah memohon keringanan dalam menjalankan ibadah-ibadah dan syariat-syariat Islam, karena ia merasa tidak mampu melaksanankan semua syariat Islam. Rasulullah lalu memerintahkan ia untuk selalu berdzikr. Mengingat Allah. Dengan berdzikr, bisa menutupi semua ibadah-ibadah yang tidak mampu kamu kerjakan.

Wa min Allah at taufiq hidayah wal inayah, wa bi hurmati Habib wa bi hurmati fatihah!!

(T. Fidriansyah)

antaantalowres2-custom.jpg

 

Bismillaahir rahmaanir rahiim

Alhamdulillahi rabbil `alamiin

Wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa Sayyidina wa Nabiyyina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallim

 

 

Yayasan Haqqani Indonesia bersama Haqqani Rabbani Institut Indonesia mengundang Bapak, Ibu dan saudara-saudara sekalian untuk menghadiri acara bersama:

 

As-Sayyid Syekh Muhammad Hisyam Kabbani ar-Rabbani qs 

 

Skedul Acara:

 

Kamis, 30 Agustus 2007

Zikir Khatm Khwajagan dan Sohbet

Masjid Baitul Ihsan (BI),

Jl.Budi Kemuliaan, Jakpus

19.00-21.00 WIB

 

Jumat, 31 Agustus 2007

Salat Jumat

Masjid Ukhuwah Islamiyah UI,

Kampus UI Depok

 

Zikir Khatm Khwajagan dan Sohbet

Brawijaya IA No.16,

Kby Baru, Jaksel

18.00-22.00 WIB

 

Sabtu, 1 September 2007

Silaturahim dg Perwakilan Zawiyah

(terbatas)

 

Minggu, 2 September 2007

Peresmian Masjid al-Madinah

Kompleks CBD Jl. Hos Cokroaminoto 93, Karang Tengah, Ciledug

09.00-11.00WIB

 

Hadrah, Sema, Whirling Dervish, Sohbet

GOR Ragunan

Jl. Harsono R.M. Ragunan (di samping Kebun Binatang Ragunan)

19.00-22.00WIB

Senin, 3 September 2007

Sohbet, Zikir dan Hadrah

Zawiyah Haqqani Rabbani Cinere

Jl.Vila Terusan No.16 (masuk lewat Vila Cinere Mas)

19.00-21.00WIB

 

Rangkaian Salat Malam

Masjid Darussalam

(di belakang Hotel Gran Melia, Kuningan Jakpus)

Jumat-Selasa, 31 Agustus-4 September 2007

03.30-06.00WIB

 

  

Donasi:

Seluruh acara di atas tidak akan terlaksana tanpa dukungan dari Bapak, Ibu dan saudara-saudara sekalian, untuk itu marilah kita berpartisipasi dalam membiayai kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan.  Donasi dapat disampaikan melalui

Rekening Bank BCA Cab. Pasar Cikini No. 305 133 9566 an Melsa/Utje

SWIFT CODE: CENAIDJA

(catatan: mohon konfirmasi setelah transfer)

 

Untuk Informasi lebih lanjut, hubungi:

Yayasan Haqqani Indonesia

Telp&fax: 315-3014, 0813-8497-1997

E-mail: yayasan_haqqani_Indonesia@yahoo.com

http://www.naqsybandi.web.id/

Posted by: zawiya | August 15, 2007

Pesona Kelembutan Islam

love.jpg

Di antara akhlak Nabi Saw. yang paling menonjol, beliau adalah pribadi yang lemah-lembut. Kesaksian semua orang yang pernah semasa dengan beliau, menggambarkan bahwa beliau tidak pernah berkata kasar, tidak pernah mengumpat, dan tidak pernah berlaku bengis. Bahkan, beliau SAW tidak pernah marah, kecuali terhadap perbuatan yang melanggar kehormatan agama. Dalam ungkapan yang singkat, Dr. Yusuf al-Qardhawi mengatakan, “Barangsiapa membaca sunnah Rasul SAW, baik dalam perkataan maupun perbuatan, maka akan menemukan pancaran kelemahlembutan dalam berdakwah dan interaksi sehari-hari…”

Ada beberapa hikmah yang bisa kita peroleh dari perangai lemah-lembut, seperti telah dicontohkan oleh Nabi Saw. Yaitu di antaranya:

Pertama, kelemahlembutan bisa membuat kita menjadi pribadi yang indah.

Secara garis besar, Allah SWT mengkaruniakan dua keindahan kepada manusia: keindahan fisik dan keindahan kepribadian. Manusia pada umumnya mudah terpukau oleh keindahan fisik. Namun, keindahan fisik ini akan segera kehilangan kesan bila tingkah-laku dan kata-katanya kasar. Di sinilah, kelemahlembutan menjadi kunci untuk mewujudkan pribadi yang indah. Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah memberi (keutamaan) kepada kelemahlembutan, yang tidak diberikanNya kepada kekerasan, dan tidak juga diberikanNya kepada (sifat-sifat) yang lain.” (HR. Muslim dari `Aisyah ra.)

Dalam kesempatan lain, Nabi Saw. bersabda: “Sesungguhnya kelemahlembutan tidak melekat pada sebuah pribadi kecuali sebagai perhiasan, dan tidak terlepas darinya kecuali sebagai keaiban.” (HR. Muslim)

Kedua, kelemahlembutan bisa membentuk orang-orang dan lingkungan di sekitar kita.

Banyak Sahabat radhiyalLahu ta’âlâ `anhum yang memperoleh hidayah (masuk Islam) setelah menyaksikan pribadi Nabi SAW yang lemah-lembut. Salah satunya adalah Tsumâmah bin Atsâl ra. Suatu hari, Tsumâmah yang masih musyrik tertangkap dalam sebuah peperangan melawan kaum Muslimin. Ketika Nabi SAW menjenguk para tawanan, beliau sempat bertanya kepada Tsumâmah, “Apa yang ingin kau katakana, wahai Tsumâmah?”  Tsumâmah menjawab, “Jika kau hendak membunuhku, hai Muhammad, sesungguhnya kau membunuh seseorang yang memiliki pengaruh kuat. Jika mau berbuat baik kepadaku, maka kau berbuat baik kepada orang yang tahu berterima kasih. Dan jika kau ingin harta tebusan, sebutkan saja berapa pun jumlahnya, pasti akan aku bayar.”

Namun Nabi Saw. tidak memerintahkan untuk membunuh Tsumâmah, atau meminta tebusan darinya. Beliau SAW malah mengingatkan para Sahabat ra. agar merawat Tsumâmah dan tawanan lainnya dengan baik. Demikianlah, sampai tiga kali kesempatan Nabi Saw. menanyakan hal yang sama kepada Tsumâmah, ia terus menantang untuk dibunuh saja atau membayar tebusan dalam jumlah yang besar.

Setelah para tawanan tersebut dirawat hingga pulih kondisi mereka, alih-alih mereka dibunuh atau dimintai uang tebusan; Nabi SAW dengan senyum mengembang malah membebaskan mereka tanpa syarat dan menyuruh mereka untuk kembali kepada keluarga masing. Tsumâmah pun beranjak meninggalkan Nabi Saw dan para Sahabat ra. Namun tak lama berselang, ia kembali menghadap Nabi SAW, mengikrarkan keislamannya. Lalu ia berkata, “Sungguh, wahai Rasulullah, sebelum ini tiada orang yang paling saya benci di dunia selain anda. Tapi sekarang anda menjadi orang yang paling saya cintai di dunia ini.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga, kelemahlembutan adalah pelindung hati dari noda dan penyakit kalbu.

Yang perlu disadari, ketika kita berkata kasar dan mengumpat, sebenarnya kita tidak sedang merugikan orang lain. Tapi, terlebih lagi, kita sedang menodai hati kita sendiri, mengotorinya dengan kekasaran, serta membuatnya menjadi keras.

Suatu kali, Nabi SAW. tengah duduk bersama Aisyah ra. Lalu melintaslah sekelompok orang Yahudi di hadapan beliau. Tiba-tiba mereka menyapa Nabi Saw. dengan memelesetkan ungkapan “Assalâmu’alaikum” menjadi “Assâmu `alaika”-kebinasaan atasmu, hai Muhammad. Mendengar serapah orang-orang Yahudi itu, Aisyah ra. naik pitam dan balik memaki mereka. Namun Nabi SAW segera menenangkan Aisyah ra. dan memintanya agar tidak mengotori mulut dan hatinya dengan kekasaran dan kebencian. Lalu beliau memberikan alasan: “Sesungguhnya Allah Swt. lembut, dan menyukai kelemahlembutan dalam segala hal.” (HR. al-Bukhari)

Lemah-lembut dalam tutur kata, lemah-lembut dalam canda, serta lemah-lembut dalam tingkah-laku ternyata merupakan salah satu keteladanan yang paling menonjol dalam diri Rasulullah Saw. Dan saat ini, dalam keseharian kita, baik dalam lingkup kehidupan sosial yang paling kecil hingga yang paling besar; betapa kita menghajatkan keteladanan ini demi terus menjaga keseimbangan sosial yang kita miliki. Toh Allah Swt. telah berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagimu; yaitu bagi orang-orang yang mengharap (keridhaan) Allah…” (Al-Ahzâb; 21)

Kelemahlembutan bukan indikasi ketidakberdayaan, tetapi merupakan tanda kemampuan untuk mengendalikan diri. Sebaliknya, kekasaran bukan tanda kekuasaan, namun tanda kerapuhan emosional dan kelemahan kepribadian.

Pada titik singgung ini, Nabi SAW bersabda: “Apabila Allah SWT menyukai seorang hamba, maka Ia akan mengkaruniainya kelemahlembutan. Dan barangsiapa dari keluargaku yang mengharamkan/ menjauhi kelemahlembutan, maka sesungguhnya dia telah menjauhi kebaikan.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)

* dapet pengajian dari Ustadz Hakamsyah, Lc.

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.